Inspirasi, Eradigitalnews.com : Manusia yang mau berusaha dengan sungguh-sungguh maka dia akan berhasil mencapai tujuannya, Ibnu Hajar adalah sebagai contoh seorang pekerja keras untuk mencapai kedudukan ahli dalam disiplin keilmuannya.
Nama Ibnu Hajar tentu sudah tak asing lagi bagi sebagian kita. Beliau adalah ulama besar dan masyhur dalam bidang hadits dan fiqh. Namun, tahukah kalian? Bahwa untuk mencapai level tersebut, ternyata banyak sekali hal yang harus dilewati olehnya, sebuah jalan yang tak mudah dan penuh liku harus diseberangi.
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani, begitulah ia dikenal banyak orang. Nama lengkapnya adalah Abul Fadl Ahmad bin Ali bin Muhammad al-Asqalani al-Misri al-Qahiri. Nenek moyangnya berasal dari desa Asqalan, kota kuno yang terletak di pantai Suriah dan Palestina. Oleh karenanya, afiliasi namanya menggunakan al-Asqalani.
Ibnu Hajar al-Asqalani adalah seorang anak yatim, ibunya meninggal saat beliau masih balita dan ayahnya meninggal saat beliau berumur 4 tahun. Ibnu hajar adalah sosok remaja yang sangat rajin, beliau memiliki semangat dan keinginan menjadi seorang yang mempunyai pengetahuan luas. Sayangnya semangat dan keinginan yang kuat saja tidak cukup untuk mewujudkan cita-citanya. Ibnu Hajar memiliki kelemahan dalam menghafal dan memahami pelajaran yang diberikan oleh gurunya. Akal pikirannya tak cukup baik dalam menerima pelajaran, sehingga hal tersebut membuat dia tertinggal dari teman-teman sekelasnya.
Ibnu Hajar muda dilabeli oleh teman-temannya sebagai anak bodoh. Beliau tak menghiraukan cemoohan dan ejekan dari teman-temannya, dalam beberapa riwayat beliau menghabiskan waktu dua puluh tahun (riwayat lain menyebutkan empat puluh tahun) untuk menimba ilmu dari gurunya. Hingga pada akhirnya, manusia mempunyai batasan dalam bersabar, beliau mulai gundah dan gusar karena merasa kesulitan dalam menerima pelajaran, pada suatu hari beliau meminta ijin kepada gurunya untuk pulang. Sang guru tak serta merta langsung memberikannya ijin, Ibnu Hajar terus menerus memohon kepada gurunya sampai akhirnya mendapat ijin pulang dari gurunya.
Setelah mendapatkan restu dari sang guru, Ibnu Hajar segera pulang. Di tengah perjalanan, tiba-tiba hujan turun cukup lebat dan memaksanya untuk berteduh di sebuah gua. Di dalam gua, beliau mendengar gemircik air hujan yang jatuh menetes menempa batu besar yang menyebabkan batu tersebut terkikis hingga berlubang. Beliau merenungi fenomena tersebut dan berpikir, bahwa otak dan pikirannya tentu tak sekeras batu tersebut, batu besar yang keras saja bisa terlubangi oleh tetesan air yang lembut, maka tak mungkin ilmu yang menerpa otaknya tak akan membekas di pikiran.
Akhirnya, Ibnu Hajar kembali ke sekolahnya, di usianya yang sudah tak muda lagi, beliau tetap bersemangat untuk belajar dan mencari ilmu. Sejak saat itu, Ibnu Hajar yang dikenal giat namun bodoh, berubah menjadi murid yang paling cerdas hingga melampaui teman-temannya. Pada akhirnya beliau tumbuh menjadi ulama yang terkenal dan memiliki karangan kitab, diantaranya Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, Bulughul Marom min Adillatil Ahkam dan lain-lain. Dari kisah inilah kemudian beliau dikenal dengan sebutan Ibnu Hajar (bukan nama sebenarnya) yang artinya Anak Batu.
Kisah perjalanan dalam menuntut ilmu beliau patut kita contoh, bahwa dalam menuntut ilmu, kita tak boleh mudah putus asa meski sudah berkali-kali menghafal dan membaca ternyata tak kunjung hafal dan faham. Karena pada hakikatnya kita tidak terlahir bodoh, hanya saja mungkin usaha kita yang kurang. Semoga cerita ini dapat menginspirasi kita semua sehingga semakin menjadikan kita semangat dalam belajar dan menuntut ilmu.

