Bandung, Eradigitalnews.com : salah satu kota provinsi Jawa Barat terkategori rawan banjir, penyebabnya faktor geografis cekungan (topografi rendah), pertemuan beberapa sungai utama (Citarum, Cikapundung, Cisangkuy), serta tingginya curah hujan.
Beberpa Wilayah seperti Baleendah, Dayeuhkolot, Pameungpeuk, Bojong Soang, dan Rancaekek merupakan titik paling rawan. Analisis Sistem Informasi Geografis (SIG) menunjukkan wilayah dengan kemiringan lereng rendah dan penggunaan lahan intensif memiliki risiko tertinggi.
Berangkat dari persoalan tersebut, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) menyoroti permasalahan banjir di Kabupaten Bandung saat memberikan sambutan dalam Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Bandung Dalam Rangka Memperingati Hari Jadi Ke-385 Kabupaten Bandung, di Ruang Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Bandung, Selasa (21/04/2026).
Pada paripurna, KDM menyampaikan beberapa solusi penanganan banjir di Kabupaten Bandung, salah satunya memperbanyak danau sebagai penampung air hujan. Pemerintah Provinsi Jabar akan membantu pembuatan danau di lahan yang sudah dibebaskan oleh Pemerintah Kabupaten Bandung.
“Bandung itu harus diperbanyak danau karena Bandung itu adalah bendungan,” imbuhnya.
Selain membuat danau, KDM menyatakan penanganan banjir perlu dilakukan dengan cara pembenahan tata ruang.
“Penanganan banjir, Pak Bupati dalam tahun ini melakukan perubahan tata ruang karena jujur saja, tata ruang Bandung ini salah, sawah dibuat jadi pabrik,” kata KDM.
Sumber media ini mencatat bila dilihat dari “Topografi” Wilayah Bandung Selatan merupakan dataran rendah yang membentuk cekungan, menjadi titik pertemuan aliran air. Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, Cisangkuy, dan Cikapundung memiliki kerawanan tinggi terhadap luapan.
Data menyebutkan, terdapat di Kecamatan Baleendah (283.57 ha), Dayeuhkolot (136.81 ha), Pameungpeuk (172.68 ha), Bojong Soang, Kopo, Rancaekek.
Petsoalan lain juga dikarenakan berkurangnya daerah resapan air di utara Bandung akibat alih fungsi lahan.
Problem Sampah.
Ia juga menyoroti permasalahan sampah yang ada di Kabupaten Bandung sebagai penyebab banjir. Menurutnya, masalah sampah akan ditangani dengan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang sudah disepakati antara Pemprov Jabar dengan sejumlah kota/ kabupaten di kantor Kementerian Lingkungan Hidup beberapa waktu lalu.
KDM pun menegaskan perlunya penghijauan di kawasan Bandung selatan melalui penanaman berbagai tanaman keras, seperti teh dan kopi.
Penanaman tanaman keras seperti teh dan kopi tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Sementara itu, Bupati Bandung Dadang Supriatna menekankan pentingnya kolaborasi lintas wilayah Bandung Raya dalam menyelesaikan berbagai persoalan di Kabupaten Bandung, khususnya banjir.
Senada dengan KDM, ia pun sepakat perlunya penghijauan di kawasan Bandung selatan melalui penanaman tanaman keras seperti teh dan kopi, serta pemberdayaan petani untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. (Hendri – T)













