PURWAKARTA, Eradigitalnews.com : Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Asosiasi Wartawan Profesional Indonesia (AWPI) Kabupaten Purwakarta, Ramaldi, menekankan pentingnya integrasi antara etika, moral, dan akhlak dalam setiap sendi kehidupan manusia. Menurutnya, ketiadaan fondasi tersebut tidak hanya merusak karakter individu, tetapi juga mengancam tatanan sosial, hukum, hingga kelestarian lingkungan.
Dalam keterangannya pada Selasa (24/03/2026), Ramaldi menyatakan bahwa segala bentuk profesi dan bidang pekerjaan wajib dijalankan dengan landasan etika yang kuat serta disiplin yang tinggi.
“Tanpa etika dan moral, manusia akan tergelincir pada perbuatan buruk yang tidak hanya merugikan orang lain, tetapi juga menghancurkan diri sendiri. Pekerjaan yang dilakukan tanpa integritas tidak akan membawa manfaat yang berkelanjutan,” ujar Ramaldi.
Fenomena ‘Pintar Tanpa Moral’
Ramaldi menyoroti fenomena banyaknya individu cerdas secara intelektual namun minim moralitas. Hal ini, menurutnya, memicu terjadinya berbagai kemaksiatan, baik yang kasatmata maupun yang terselubung. Ia mengingatkan agar manusia menjaga fitrah kemuliaan yang diberikan Tuhan agar tidak terjebak dalam sifat fasik, culas, pembohong, hingga pengkhianat.
“Penyimpangan itu bisa berupa materi maupun non-materi. Contoh nyatanya adalah penyelewengan kebijakan, manipulasi hukum, hingga pencitraan palsu seperti penggunaan ijazah dan gelar akademik bodong,” tegasnya.
Ia juga mengkritik budaya kemunafikan yang sering dibungkus dengan sikap “basa-basi” atau sekadar manis di bibir, sementara hati merancang siasat untuk memperdaya pihak lain. Ramaldi bahkan menyentil istilah ABS (Asal Bapak Senang) yang telah menjadi rahasia umum di Indonesia namun jarang menjadi kajian mendalam di ranah akademisi.
Dampak Global dan Kesadaran Spiritual
Lebih lanjut, Ramaldi mengaitkan ketiadaan etika dengan konflik global yang terjadi saat ini, seperti yang melanda Timur Tengah. Ia menilai ambisi ekonomi dan nafsu kekuasaan telah mengabaikan rasa malu dan kemanusiaan.
“Sikap arogan dan sombong dalam peperangan adalah cerminan dari nafsu yang diperbudak setan. Ketika teknologi canggih seperti rudal dan drone digunakan hanya untuk menghancurkan, di sanalah letak runtuhnya nilai kemanusiaan,” tambahnya.
Sebagai penutup, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk kembali pada kesadaran dan kecerdasan spiritual.
“Penting bagi kita untuk tetap bertasbih dan bersyukur kepada Sang Pencipta agar tidak menjadi sombong. Kesadaran bahwa ada kekuatan yang lebih besar di atas segalanya hanya bisa dimiliki oleh manusia yang memiliki etika, moral, dan akhlak mulia. Inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya,” pungkas Ramaldi.(Redaksi)













